Selasa, April 12, 2011

Selamatkan Bumi! Start from the small thing.

Pernah nonton Wall-E, Film keluaran Pixar Animation pada tahun 2008 lalu?

Film ini seolah menyadarkan kita mengenai kondisi bumi kalau kita nggak peduli lagi sama planet tercinta ini. Ceritanya di tahun 2110, manusia menguasai kemajuan teknologi yang edan-edanan canggihnya. Mereka membangun gedung-gedung tinggi di semua lapak tanah. Tapi sayangnya, para manusia lupa sama kodrat alamnya: bahwa bumi butuh tumbuhan, hutan, dan tempat bersih tanpa polusi. Tumbuhan jadi benda yang sangat langka, dan pohon besar nggak ada sama sekali. Sedangkan jumlah sampah terus bertambah dan menumpuk dimana-mana.
Hal ini membuat bumi menjadi tempat yang berbaya karena kadar racunnya tinggi. Tak seorang manusiapun bisa bertahan hidup di bumi. Alhasil, para manusia harus mengungsi ke luar angkasa dan tinggal dengan teknologi canggih yang sangat monoton. Mereka merindukan kehidupan alami di bumi.

Cerita fiksi ini mungkin aja terjadi di kehidupan nyata kita nanti, loh. Beberapa diantaranya bahkan sudah terjadi tepat di depan mata kita. Tingkat polusi makin tinggi, sampai-sampai ada beberapa bagian bumi yang berbahaya untuk ditinggali karena eksploitasi yang berlebihan. Sampah makin menggunung dimana-mana, nambah kadar racun di udara, perairan juga di daratan. Tanaman, si sahabat hijau yang bisa mengurangi racun di udara, malah jumlahnya makin bikin hati miris. Hutan semakin menciut. Apakah suatu saat nanti, kita juga bakal ‘dimusuhi’ oleh bumi sampe-sampe kita harus ngungsi ke luar angkasa? Wuih, jangan sampai deh.. >.<
Mumpung kehidupan kita belum seburuk dalam cerita fiksi itu, yuk kita mulai revolusi hijau kecil-kecilan mulai dari diri kita sendiri. Have no idea with what should we do? Gue bakal share hal-hal kecil apa saja yang udah gue lakuin, dan bisa terus kita lakuin bersama demi kelangsungan hidup bumi kita tercinta ini.
  • Tempat sampat terdekat=sakumu!
Supaya bumi kita nggak jadi planet sampah seperti digambarkan dalam film Wall-E, kita bisa mulai dari hal cetek: Buang sampah pada tempatnya.
Waktu lagi upacara hari senin pagi saat gue masih SMA dulu, kepala sekolah gue pernah memberi petuah pada murid-muridnya untuk membuang sampah pada tempatnya. Yang bikin gue selalu inget petuah itu sampai sekarang adalah kalimat tambahannya; “Kalau di tangan kalian ada sampah, dan kalian belum menemukan tempat sampah di sekitar kalian, jadikan saku kalian sebagai tempat sampah terdekat”
Yang bikin orang-orang males buang sampah pada tempatnya sebenernya TEMPATNYA ITU SENDIRI KAGAK ADA. Walaupun ada, jauh dan bikin males buat nyamperinnya. Tapi sejak gue mendengar petuah ini, bener juga ya. Selama sampahnya sampah kering dan nggak mengganggu, kenapa nggak gue sakuin atau masukin tas dulu? 
 Gue suka kesel sendiri kalo liat orang lagi jalan atau mobil yang sedang melaju melemparkan sampah seenaknya kejalan. Come on, kalian takut mobil kalian kotor? Sediain tempat sampah kecil, dong. Gue juga suka lupa dan baru nyadar setelah sampai di rumah, tas gue penuh dengan kertas kecil, tissue bekas dan bungkus permen. Jorok? Menurut gue nggak apa-apa, toh sesampainya di rumah gue buang semuanya ke tempat sampah. Lebih jorok mana sama buang sampah sembarangan, hayo?
  • Diet Kresek
    Lagi, petuah dari seorang guru nempel di otak gue sejak SMP sampe sekarang. Yang sekarang guru Biologi. Beliau menjelaskan bahwa banyak sampah plastik yang tidak bisa terurai hingga 1000 tahun lamanya! Wow, bayangin kalau sampah plastik menggunung hari ini, besok, lusa dan setiap hari, sedangkan untuk bisa terurai, kita harus nunggu selama 1 abad? Cara lain untuk mengurangi plastik seperti dibakar dan dikubur juga berbahaya. Bisa menyebabkan polusi tanah dan udara. Kalau hanyut di sungai, bisa jadi menyumbat saluran air dan menyebabkan banjir. Hiiy, ternyata plastik seberbahaya itu, ya? “Kalau kalian belanja di swalayan atau warung-warung, kalian tidak perlu meminta kreseknya selama belanjaan itu masih bisa kalian bawa dengan dua tangan”. Itu petuah sang Guru yang masih gue camkan sampe sekarang.
    Istilah “Diet kresek” memang baru gue denger pas acara pesta blogger, disana ada sosialisasi unik dengan menggunakan “manusia kresek”. Gue dukung 100% nih, aksi diet kresek ini. Karena sejak SMP, gue memang paling anti nerima kresek dari warung atau swalayan. Selama belanjaannya bisa masuk tas gue, gue nggak pernah minta kresek tambahan.
    Oya, sekarang kan banyak yang produksi tas kain untuk mengurangi jumlah sampah kresek. Kayak gini nih contohnya.
    Tas kain ini juga bagus buat diet kresek. Saat kalian belanja, bawa aja tas kain ini. Jadi, tak perlu minta kresek di meja kasir. Gue nggak BELI tas kain seperti ini. Tapi, gue ngumpulin GRATISANNYA aja. Hahaha *ketawasetan* Ternyata, diet kresek itu murah dan mudah, kan?
    Tas kain seperti ini banyak dibagikan di berbagai event.
    • Creative Reuse
      Menurut data terbaru, rata-rata sampah yang dihasilkan mencapai 6000ton perhari, loh! Salah satu cara untuk menguranginya adalah dengan memanfaatkannya kembali. Gue jadi inget beberapa hari yang lalu, temen gue menenteng sebuah dompet unik yang ternyata terbuat dari sampah bungkus kopi! Dia bilang Mommynya yang bikin. Tertarik setengah mati, gue udah bikin janji buat ketemu ibunya dan minta diajarin menganyam sampah jadi dompet cantik. Ternyata, dompet serupa gue temukan diYourshopers.com (sebuah toko online yang dibentuk untuk tujuan perbaikan kehijauan kehidupan. Produk-produknya hasil daur ulang semua loh!) Nggak cuma dompet, si sampah juga disulap jadi tas yang lucu!
      Gue sangat tertarik untuk belajar menganyam dompet-dompet cantik ini. Belum terealisasikan memang, tapi suatu saat gue harus bisa mengkaryakan sampah jadi sesuatu yang berguna. (ehm, kalo gue ternyata terlalu bego untuk belajar nganyam, gue pengen deh beli tas yang merahnya itu.. kyaa kyaa lovelyyy >.<)

      Oya, gue punya banyak kaleng rokok di rumah. Kaleng rokok bakal jadi sampah lain yang susah terurai, jadi gue memilih untuk melakukan creative reuse daripada langsung membuangnya ke tempat sampah. Kaleng-kaleng ini ternyata banyak gunanya. Gue hias dikit, bisa jadi celengan cantik. Gue simpen di kamar mandi, jadi tempat sikat gigi dan odol. Gue simpen di kamar, jadi tempat pinsil di meja. Oya, gue bahkan jadi bisa beli obat creambath kiloan (kemasan plastik) dan menempatkannya di kaleng bekas ini.
      • Mari Berhemat
      Terkadang masih ada yang bertanya-tanya, apa hubungannya hemat listrik dengan menjaga lingkungan tetap 'hijau'? Gue selalu mematikan listrik saat sudah tidak terlalu diperlukan, mencabut charger Handphone dan Laptop setelah penuh, dan tidur tanpa lampu. Tau nggak, kalo polusi paling tinggi itu berasal dari mesin-mesin pembangkit listrik? Itu sebabnya berhemat listrik termasuk salah satu aksi "go green". Mayoritas pembangkit listrik saat ini menggunakan batu bara dan mesin diesel. Kita semua tau bahwa keduanya merupakan penghasil polusi tertinggi dibandingkan penyebab polusi yang lainnya.
      PLTA? Oke, pembangkit listrik dengan tenaga air memang menghasilkan polusi mendekati nol. Tapi masalahnya, debit air yang dibutuhkan untuk dapat membangkitkan listrik semakin sedikit. Dari sini nyambung, nih. Berarti kita juga harus menghemat air, kan? Selain melakukan penghematan dengan aksi jarang mandi, (ups) gue juga melakukan aksi penghematan air yang lain. Setelah mencuci beras atau daging sebelum dimasak, gue nggak langsung buang airnya. Gue kumpulkan untuk menyiram tanaman. Selain menghemat air, juga memberi nutrisi yang bagus buat tanaman kita. Oya, air cucian beras juga bagus buat cuci muka, loh. Bisa bikin kulit kenyal dan halus.
      Nggak cuma listrik sama air yang harus kita hemat. Kertas dan tissue juga harus digunakan seefektif dan seefisien mungkin. Kalau kalian pilek dan terus-terusan mengeluarkan ingus, lebih baik gunakan handuk kecil daripada kertas tissue. Tissue kan terbuat dari pohon. Semakin banyak kita mengahmbur-hamburkan tissue, berarti semakin banyak pohon yang harus dikorbankan. Sama halnya dengan kertas. Derita para mahasiswa biasanya ketika harus membeli satu rim kertas hampir tiap bulan. Selain tugas, materi kuliah dalam bentuk soft copy juga terkadang perlu di print. Kalau ada materi kuliah yang harus gue print untuk dibaca, gue selalu ngprint di kedua sisinya. Untuk beberapa type printer memang agak ribet. Tapi, kita malah bisa menghemat sampai jumlah kertas yang digunakan sampai setengahnya, loh.

      • Kado Pohon
        Anggaplah pohon itu sebagai sahabat kalian. Mereka yang memberi kita kehidupan, mereka yang mengambil karbondioksida dari udara dan memberikan oksigen buat kita. Bahkan, Sahabat hijau ini rela buahnya dipanen, daunnya dipetik, dan umbinya dimanfaatkan supaya kita bisa menyambung hidup. Kalau para tumbuhan sebegitu sayangnya sama kita, kenapa nggak kita juga menyangangi mereka? Dengan menanam dan merawat pohon satuuu aja tiap satu anggota keluarga udah cukup, kok.
        Gue jadi inget aksi “go green” yang dilakukan keluarga besar gue. Waktu itu, kakak sepupu gue baru bikin rumah di daerah ciwidey. Sebagai acara syukurannya, kita ngadain family gath sekalian arisan keluarga. Biasanya, masing-masing keluarga harus bawa kado dan nantinya ada ritual tuker kado. Tapi untuk family gath yang satu ini berbeda. Bukan lagi kado yang kita bawa, tapi bibit pohon. Disana, kita sama-sama nanam bibit pohonnya. Ada yang bawa pohon yang mujarab untuk obat, bibit pohon yang nantinya bisa tumbuh besar, dan lain-lain.
        Ada lagi yang unik dari keluarga besar gue. Kakak sepupu gue yang lain baru merit beberapa bulan yang lalu. Dan, coba tebak cideramatanya apa? Bibit pohon! Jadi, pada saat para tamu baru masuk dan menulis di buku tamu, mereka nggak dikasih apa-apa, cuma kartu yang nantinya bisa ditukarkan dengan bibit pohon saat keluar gedung. Unik banget, bibit pohonnya ditempatin di keranjang cantik dan mudah dibawa pulang.
        Dari acara “Green Family Gath” ini, gue jadi kepikiran: Pohon lucu juga ya, untuk dijadikan kado. Coba pikir, lucu kan kalau kalian ngasih pacar atau sahabat kalian bibit pohon sebagai kado ulang tahun atau kado anniversary? Kalian bisa ngerawatnya bareng-bareng, nyiram tanaman sambil main air bareng, motong cabang dahannya bareng-bareng, dan menyaksikan pohonnya tumbuh. Hihi, romantis, kan?
        Selain nambah erat hubungan kalian, juga bisa ngebantu aksi go green.

        Hal-hal yang gue lakuin diatas memang aksi-aksi kecil. Gue pernah ikutan komunitas penyelamat lingkungan di Bandung; Forum Hijau Bandung. Tapi gue nggak terlalu aktif untuk meeting dan kumpul-kumpul. Tapi, gue rasa aksi kecil-kecilan gue ini cukup berarti juga kok. So, why dont we start from the small thing?



        *Copied from my own Facebook Notes, created January 2011 for YContest! by yourshopers.com 

        Tidak ada komentar:

        Posting Komentar

        Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...